Selasa, 13 Maret 2012

Pasar Baru Tempat Servis Kamera dari Analog Hingga Antik



KALAU bukan gara-gara Narcissus yang nekat menyintai bayangannya sendiri, tak bakal ada kata narsis. Gara-gara ingin tampil narsis, jadi banyak orang tergila-gila fotografi. Kamera pun jadi kebutuhan. Ke mana-mana menenteng kamera. Bahkan piranti penangkap gambar itu pun dicangkokkan di ponsel. Tinggal jeprat-jepret sejurus kemudian tampilan foto narsis Anda sudah beredar di jejaring sosial. 

Ada banyak jenis kamera di antaranya kamera analog, kamera digital saku, dan yang terbaru dan kini sangat digemari adalah kamera DSLR (digital single-lens reflex). Saking sering digunakan, jenis kamera seperti itu jadi gampang rusak. Tinggal lihat tingkat kerusakannya, kalau masih ada garansi dan cuma onderdilnya yang rusak bisa direparasi hingga bisa digunakan lagi. Tapi kalau rusaknya parah, apalagi tak ada garansi maka kamera jadi barang rongsokan. 

Giliran rusak, banyak yang bingung mencari tempat reparasi kamera bila masa garansinya sudah habis. Nah, salah satu tempat yang sudah terkenal tempatnya reparasi kamera adalah Pasar Baru atau Passer Baroe. Pasar yang terletak di kawasan perdagangan di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat ini memang menjadi  menjadi tujuan utama bagi masyarakat yang mau memperbaiki kamera—secara salah kaprah orang menyebutnya: service atau servis—dan pusat jual–beli kamera. 

Di lantai dua Blok AKS Pasar Baru depan Metro Atom Plaza ini bukan cuma satu atau dua toko yang menawarkan jasa reparasi kamera, tetapi hampir di semua lantai dua menawarkan jasa yang sama: servis kamera, jual–beli kamera baru dan bekas serta aksesorisnya. Di sini hampir semua toko buka mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB saban hari.
            
Salah satu pemilik gerai jasa reparasi kamera yang ditemui Suara Pasar adalah Andi (20) di tokonya yang bernama ”Emko Camera”. Menurut lajang kelahiran Padang, Sumatera Barat ini, banyak para pecinta fotografi yang amatir maupun profesional yang datang mereparasi kamera mereka. Biasanya kerusakan sering terjadi di bagian lensa. Untuk kamera digital, ada yang kabel fleksibelnya putus, lensa macet atau LCD pecah. 

"Biasanya bila kabel fleksibelnya putus, cukup kita jumper atau sambung. Tetapi bila kamera sudah macet dan rusak parah, saya langsung ganti sparepart-nya dengan yang baru," jelas Andi. 

Ongkos rata–rata yang dia kenakan kepada pelanggan berkisar Rp 250 ribu. Bila ada suku cadang yang diganti, misalnya LCD harganya mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu. Sementara untuk kabel fleksibel Rp 250 ribu, ganti lensa Rp 500 ribu dan ganti baterai dari Rp 150-200 ribu. 

Menurut Andi, waktu yang dibutuhkan untuk mereparasi di tokonya cuma sehari kamera sudah bisa diambil. "Tetapi itu tergantung kondisi kerusakan kamera," katanya buru-buru menambahkan. 

Lukman (45) yang datang bersama istrinya mengatakan, ia langsung ingat Pasar Baru begitu kamera sakunya rusak. "Kamera poket saya rusak di bagian LCD-nya," katanya sembari menunjukkan kamera sakunya. 

Lukman pun mengakui alasannya mereparasi kamera poketnya di Pasar Baru karena garansi resmi pemegang merek sudah habis masa berlakunya. "Pasar Baru sudah saya kenal dari dulu untuk servis kamera, harganya pun lumayan terjangkaulah," pungkasnya.

Ginting (60) pemilik gerai lain yang ditemui Suara Pasar di tempat yang sama mengaku, tadinya dia adalah seorang fotografer keliling yang banting setir jadi 'Tukang Servis Kamera'. Kini, dia memiliki toko kecil yang sudah 20 tahun menawarkan jasa reparasi kamera. 

Ginting mengatakan, dia banyak mereparasi berbagai jenis kamera. Mulai dari jenis analog merek Nikon, Hasselblad, Leica dari berbagai serinya hingga kamera digital Canon, Sony dan Samsung. Bahkan dia pun mampu mereparasi kamera tua yang sudah tak diproduksi lagi di pabriknya, seperti Leica seri 0. "Kebanyakan saya menyervis body kamera,  terkadang lensa juga tidak fokus, atau diafragmanya sudah tidak normal lagi," urai Ginting yang akrab disapa Opung. 

Waktu yang dibutuhkan untuk mereparasi berbagai kamera tersebut juga hampir sama seperti kebanyakan gerai lain di situ. Ginting malah mengatakan, bila kerusakannya ringan, pelanggan bisa menunggu satu hingga tiga jam saja. 

Di toko milik Ginting ini ongkos reparasi kamera analog berkisar dari Rp 50 ribu ke atas, sedangkan yang digital mulai dari Rp 100 ribu ke atas. Ia pun menjual kamera–kamera analog bekas yang biasa maupun yang antik. Kamera analog yang dilegonya dengan harga Rp 100-200 ribu, sedangkan kamera analog yang antik harganya bisa mencapai Rp 10–20 juta. 
Winda Widyawaty
 


Tips Merawat Kamera Anda

Bagi pecinta fotografi, kamera sangatlah penting untuk dirawat dan dijaga fisik maupun fungsinya. Makanya, kamera pun perlu mendapatkan perawatan agar tetap bertahan lama. Berikut adalah tips untuk merawat kamera Anda dengan benar:

Simpan baterai di luar kamera, bila kamera sedang tidak digunakan. Agar baterai yang berada di dalam kamera tidak merusak mainboard.

Simpan kamera ataupun lensa pada suhu yang stabil agar terhindar dari jamur.

Hindari kamera jangan sampai terkena air langsung atau bocoran air hujan bagi kamera yang tidak memiliki yang tidak anti
air.
    
Jangan menyimpan kamera di sembarang tempat hingga membuat lensa tertekan atau tergencet .
    
Kamera digital jangan terlalu banyak tangan yang menggunakan. Usahakan satu kamera satu orang agar settingannya tidak berubah-ubah .

Kamera jangan terlalu sering stand by, karena kamera pun butuh istirahat.  (winda)

3 komentar:

  1. mantap Infonya, kapan-kapan hunting lensa di pasar baru!

    BalasHapus
  2. Mau nanya Mbak, gerainya Bapak Ginting ini namanya gerai apa ya?

    BalasHapus