Rabu, 15 Februari 2012

Pasar Subuh, Aneka Kue Penggugah Selera




Hari masih pagi, sekitar pukul 06.30 Wib di Pasar Kue Senen Jakarta Pusat, Rabu 30 Nopember kemarin. Suara sempritan mendadak terdengar melengking, ditiup dengan nada panjang-panjang beberapa kali.
Sempritan polisi? Ternyata bukan. Sempritan dibunyikan berulang-ulang untuk memberi isyarat para pedagang segera bersiap-siap. Peniupnya salah seorang petugas keamanan pasar.
Pasar Kue Senen berbeda dengan pasar lainnya. Pasar ini justru baru memulai aktivitas pukul 18.00 Wib dan baru berakhir pukul 07.00 Wib keesokan harinya. Suara sempritan yang ditiup petugas keamanan pasar menandai jam tutup sudah dekat.

Kesibukan di Pasar Kue memuncak justru ketika subuh menjelang. Jumlah pengunjung meningkat berkali-kali lipat dibanding malam hari. Kesibukan di saat subuh itulah yang kemudian membuat Pasar Kue Senen juga kerap disebut Pasar Kue Subuh.
Rabu 30 Nopember kemarin, seperti biasanya Pasar Kue Subuh dilanda gegap-gempita suara tawar-menawar. Para pembeli berharap mendapatkan kue dengan biaya lebih murah.
Sebenarnya sejak pukul 23.00 Wib, para pengunjung sudah berdatangan. Namun makin pagi, jumlah mereka bertambah meningkat. Suara tawar-menawar harga pun kian ramai.
”Saya datang pukul 6 sore, langsung dari pabrik di Jatinegara,” ungkap Ari (27). Sudah tiga tahun ia menggelar dagangan di Pasar Kue Subuh. Kakaknya, telah 15 tahun berjualan di tempat tersebut.

Sementara Oh Liang (30) meneruskan usaha keluarga berjualan di Pasar Kue Subuh sejak 1983 lalu. Menurutnya para pembeli berdatangan ke Pasar Kue Subuh bukan hanya untuk keperluan pribadi. Sebagian besar di antaranya justru penjual kue di pasar-pasar lain, juga bakery-bakery yang cukup dikenal masyarakat.
”Kebanyakan pembeli yang datang ke sini justru penjual kue di tempat lain. Kue yang mereka beli dari saya, mereka jual lagi di toko-toko milik mereka. Biasanya mereka beli grosiran,” ungkap Oh Liang.

Masyarakat yang membeli kue tidak untuk dijual lagi, biasanya karena ingin memenuhi kebutuhan hidangan acara arisan, pesta, hingga pernikahan. ”Tapi ada juga yang khusus datang ke sini untuk membeli kue yang akan dikonsumsi sendiri,” lanjut Oh Liang.
Aneka macam kue dapat ditemukan di Pasar Kue Subuh. Sejak aneka gorengan, kue tart, brownies, bolu kukus, roti, pisang coklat, pastel, risol, dadar gulung, lapis, lemper, kue soes, nagasari, bugis, putu, cakwe, pempek, onde-onde, bika ambon, maupun jajanan tradisional seperti kue lumpur, serabi, talam ebi, dan cucur, pembeli menghiasi antero lokasi pasar. Lalu ada juga aneka pastry, kue kering seperti kastangel dan nastar lengkap dijajakan di sini.

Soal rasa, Oh Liang menjamin kue-kue yang dijualnya tidak jauh beda dengan toko-toko kue ternama. ”Urusan harga, seperti biasa, semakin borongan tentu semakin murah,” katanya.
Harga yang ditawarkan para pedagang, cukup variatif. Biasanya dipengaruhi ukuran dan bahan-baku yang dibutuhkan untuk membuat kue. Kue-kue dan jajanan tradisional bisa didapatkan dengan harga Rp 500, hingga Rp 1000-an. Sedangkan kue tart ditawarkan seharga Rp 30 ribu hingga Rp 70 ribu.

Andri (36) yang ditemui saat sedang menghias kue tart dengan nama pesanan pelanggan, mengatakan kue-kue tart yang disediakannya terdiri dari banyak pilihan menarik. Ada black forest biasa hingga kue ulang tahun dengan variasi hiasan mobil, boneka. Pembeli juga dapat memesan nama tertentu untuk dituliskan di kue tart.
M Subur (45) dipergoki sedang memilih salah satu kue tart di kios Andri. Ia mengaku sudah 15 tahun selalu membeli kue ulang tahun anaknya di Pasar Kue Subuh. Menurutnya kue-kue di tempat tersebut tidak kalah enak dibanding kue buatan bakery ternama. ”Sudah begitu harganya cukup murah lagi,” katanya.
Selain untuk ulang tahun anak, Subur juga berbelanja ke Pasar Kue Subuh untuk acara arisan maupun acara keluarga lainnya.


Pasar Kue Subuh ini sudah berdiri lebih dari 20 tahun yang lalu, dikelola oleh PD Pasar Jaya,  rata-rata pedagang dipungut biaya Rp 5.000,- setiap harinya, untuk izin maupun kebersihan.  Dahulu Pasar Kue Subuh di Senen ini kecil (1 blok), kemudian semakin berkembang dari tahun ke tahun hingga empat blok dan jumlah pedagang disini mencapai ratusan. Pasar Kue Subuh Senen ini sudah terkenal seantero Jabodetabek, dan rata-rata yang berbelanja di sini bukan hanya orang yang berdomisili di Jakarta saja melainkan banyak juga yang berasal dari Bekasi, Tangerang dan Depok bahkan sampai ke Bogor . Di Jakarta Pasar Kue Subuh ini tidak hanya ada di Senen saja, tetapi ada Pasar Kue Subuh Blok M dan Bintaro. Namun, dalam perkembangannya, kini mulai bermunculan pasar-pasar kecil dengan konsep hampir semua pedagangnya menjual kue-kue di waktu subuh, seperti yang ada di Harapan Indah, Bekasi.

Kue yang diperdagangkan oleh para pedagang dapat dijamin kesehatannya, karena Ari salah satu pedagang yang  memiliki jaminan Depkes. Bahan bahan kuenya pun sesuai dengan bahan-bahan standar untuk membuat kue, terutama tidak menggunakan pewarna kimia. Rata – rata para pedagang disana bisa memiliki karyawan 20 hingga 80 orang untuk membuat dan memasarkan kue-kuenya. Kue itu  dibuat dari pagi hari hingga jam 9 malam setiap harinya . Tak jarang banyak kue yang tak habis terjual dipagi harinya, kue-kue yang tak terjual semuanya mereka jual kembali di toko milik mereka di rumah . Kue yang paling diminati pun seimbang, ada kue kering dan kue basah. Pasar Kue Subuh di Senen ini setiap harinya ramai, terlebih lagi bila sudah hari sabtu dan minggu, semua kue bisa habis terjual tutur Pak Andri (36) pedagang khusus kue ulang tahun. Para pedagang pun tidak merasa tersaingi dengan pedagang lain yang menjual kue yang sama, karena mereka masing-masing sudah memiliki pelanggan tetap. Bahkan ketika puasa bulan lalu hingga lebaran , Ari dapat mengirimkan dagangan kuenya hingga ke Bali dan Bangka Belitung.  Sedangkan Oh Liang mendistribusikan pesananya ke Cikarang dan Karawang.

Pembuatan dan perdagangan kue tradisional ini menjadi gantungan hidup ratusan orang. Omzet perdagangan kue itu sendiri menggiurkan. Setiap harinya, paling sedikit seorang pedagang mengantongi keuntungan Rp 3,5 – 4 juta. Bahkan, ada yang mendapatkan penghasilan lebih ketika hari- hari tertentu seperti weekend, puasa dan Hari Raya lainnya hingga tiga kali lipatnya dari hari sebelumnya.

Dari segi keamanan pun terjamin, Pasar Kue Subuh ini dijaga selama 24 jam. Petugas keamananya pun dapat mentertibkan pengemis, preman dan gembel yang berkeliaran disana. Bila sudah memasuki jam 7 pagi, petugas memberi isyarat dengan meniupkan priwitan dan para pedagang kue pun sudah mulai siap-siap membereskan barang dagangannya.

Memasuki musim hujan , ada sebagian para pedagang yang mengeluhkan tentang banjir. Bila musim hujan datang, Pasar Kue Subuh di blok IV bisa tergenang air dari semata kaki hingga sebetis, sehingga menjadi kotor dan becek, talang air pun turut bocor sehingga semakin memperburuk kenyamanan para pedagang dan juga pembeli . Banyak yang menginginkan agar segera cepat dibuatkan gorong-gorong saluran air, agar air tidak memasuki area para pedagang . Karena peminat Pasar Kue Subuh ini bukan hanya pengunjung lokal, bahkan tidak jarang turis asing berdatangan untuk menikmati kuliner kue khas Indonesia. Harapan juga dituturkan para pedagang untuk pengelola agar tidak sering membuat peraturan baru bila berganti management, tidak adanya tambahan anggaran. Promosi semakin ditingkatkan, fasilitas harus rapi dan ditambah agar terlihat seperti pasar modern. Kadang diperlukan juga kesadaran dari para pedagang untuk bersama membenahi pasar.


Winda Widyawaty

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar